10 Ancaman Kesehatan yang Dihadapi Generasi Milenial

10 Ancaman Kesehatan yang Dihadapi Generasi Milenial
Gaya hidup era milenial serba instan, tinggal klik.

 

Metrobanten, Gaya Hidup – Kehidupan generasi milenial saat ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi. Pada era digital ini, ponsel bukan lagi barang mewah, tetapi merupakan bagian dari kebutuhan primer. Hanya dengan satu kali klik, jutaan informasi bisa didapatkan.

Mendapat tuntutan serba cepat dan efisien, ternyata tak selalu memberikan dampak positif bagi perkembangan generasi milenial. Hidup dikelilingi dengan kecanggihan teknologi membuat generasi milenial jutsru makin rentan dengan serangan berbagai penyakit.

Meski berbagai kemudahan didapatkan oleh generasi milenial, pada sisi lain mereka juga rentan terhadap berbagai ancaman kesehatan.

Apa saja gangguan kesehatan yang rawan terjadi pada mereka? Berikut di antaranya:

1. Depresi

Meskipun generasi milenial lahir ditengah kemajuan teknologi yang membuat hidupnya jauh lebih mudah. Namun tetep aja nggak membuat generasi milenial terhindar dari depresi. Pesatnya perkembangan teknologi justru makin menuntut generasi milenial untuk semakin bekerja lebih keras.

Bahkan ada yang bilang, cepat atau lambat generasi milenial justru akan bersaing kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Mungkin benar bahwa kehidupan manusia makin terbantu dengan adanya AI, tapi di sisi lain manusia juga makin terdesak seiring dengan kemajuan AI.

Baca juga: Aktif Berolahraga Bisa Mencegah Depresi

Nggak heran dong, kalu generasi milenial justru sangat rentan terkena depresi. Bahkan belakangan justru banyak ditemukan gangguan-gangguan mental baru dari kalangan generasi milenial. Menariknya, gangguan tersebut justru banyak ditemui terhadap mereka yang punya ketergantungan tinggi pada teknologi.

2. Kecanduan Obat-Obatan

Karena tuntutan makin tinggi, tingkat stres yang dialami sama generasi milenial juga makin tinggi. Nggak sedikit juga dari mereka yang akhirnya mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi rasa stres berlebihan.

Ironisnya, berbagai obat-obatan tersebut beredar dengan bebas di pasaran. Sehingga sangat mudah didapatkan meskipun tanpa resep dokter. Tren penggunaan obat-obatan di kalangan generasi milenial ini cukup membahayakan. Mengingat mereka mengkonsumsinya tanpa pengawasan dari dokter atau tenaga kesehatan.

3. Kecanduan Alkohol

Kecanduan alkohol mungkin sudah menjadi bagian dari kebiasaan generasi-generasi sebelumnya. Tapi percayakah kalian bahwa generasi milenial lebih banyak yang menyalahgunakan alkohol. Ya karena tuntutan hidup mereka semakin menekan.

Bagi mereka yang tidak mempercayai agama dan norma, alkohol adalah pelarian yang tepat dan mudah. Belum lagi saat ini sangat marak berbagai tempat yang menyediakan alkohol dengan mudah dan dengan harga yang lebih bervariasi.

4. Hipertensi

Penyakit hipertensi juga mengancam generasi milenial, mengingat asupan yang mereka konsumsi semakin beragam dan mayoritas terdiri dari zat pengawet dan adiktif. Kemudian diperparah dengan budaya olahraga yang sangat minim.

Apalagi generasi milenial sekarang bisa dipastikan lebih senang menggunakan kendaraan pribadi dibanding dengan berjalan kaki. Bahkan untuk menjangkau lokasi-lokasi terdekat disekitarnya. Tak heran kalau generasi milenial sangat rentan dengan penyakit hipertensi.

5. Hiperaktif

Generasi milenial juga sangat rentan menjadi hiperaktif, lewat berbagai asupan yang dikonsumsi sehari-hari. Mereka mungkin terlihat semangat untuk melakukan hal-hal menyenangkan, tapi tentu itu berdampak buruk pada tubuh mereka.

Kondisi hiperaktif membuat mereka semangat dalam melakukan berbagai aktivitas. Tapi mereka tidak sadar bahwa tubuh mereka sudah sangat lelah untuk menjalani aktivitas. Ujung-ujungnya mereka tiba-tiba jatuh sakit. Atau yang lebih ngeri mereka bisa mengalami gangguan kekebalan tubuh.

  1. Obesitas

Generasi milenial hidup di zaman yang serba instan. Gaya hidup pun menuntut mereka untuk bergerak dengan lebih cepat, tanpa batas. Ini akhirnya memengaruhi selera mereka dalam memilih makanan. Makanan yang praktis dan cepat disaji lebih disukai ketimbang harus memasaknya sendiri. Ribet, demikian alasannya.

Baca juga: 5 Gaya Hidup yang Cocok Dilakoni Generasi Milenial

Bisa dipastikan, para milenial takkan menolak jika disuguhi piza, mi goreng, hamburger, nugget, dan ayam goreng. Padahal makanan tersebut mengandung tinggi kalori dan lemak jenuh yang tentunya dapat merugikan kesehatan.

Jika dikonsumsi berlebihan, makanan cepat saji dapat menaikkan risiko obesitas. Ujung-ujungnya, ini akan meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

  1. Kurang aktif

Kemudahan teknologi menawarkan begitu banyak kemudahan. Mau pesan makanan, belanja, mencari informasi, mengganti chanel televisi, dan aktivitas lainnya, semua bisa dilakukan sambil duduk. Namun, ini ternyata bisa menjadi pedang bermata dua.

Pola hidup sedenter tentu saja membuat Anda membakar lebih sedikit kalori, yang akhirnya memicu kenaikan berat badan. Tak hanya itu, Anda akan kehilangan kekuatan otot karena tidak digunakan dengan maksimal. Metabolisme tubuh juga dapat terpengaruh. Alhasil, risiko obesitas, kolesterol, tekanan darah tinggi, dan penyakit lainnya meningkat.

Jadi, cobalah untuk aktif bergerak dan berolahraga secara teratur. Agar lebih semangat, ajak orang-orang kesayangan atau bahkan hewan peliharaan untuk berolahraga bersama.

  1. Kurang mampu bersosialisasi

Bagi generasi milenial, memiliki ratusan teman di media sosial dan mendapat puluhan likes setiap kali menggunggah foto di media sosial seolah jauh lebih penting ketimbang memiliki sahabat di dunia nyata. Ibarat pepatah, teknologi menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Ketika berkumpul dengan teman-teman sebaya pun, generasi milenial cenderung lebih asyik dengan ponselnya sendiri ketimbang mengobrol. Internet benar-benar memisahkan manusia satu dengan manusia lainnya. Tak heran jika milenial dikatakan sebagai generasi yang individualistik. Dan bahayanya, hal tersebut dapat berujung pada kesepian dan gangguan mental seperti depresi.

  1. Bullying

Bullying memang bukan fenomena di kalangan milenial saja. Perilaku ini sudah ada sejak dulu, dan kini seolah dianggap lumrah. Namun dengan kemajuan teknologi dan orang yang kini cenderung reaktif di media sosial, perundungan di era digital alias cyberbullying menjadi makin rentan.

Di Instagram dan Twitter misalnya. Setiap kegiatan seseorang lebih mudah dipantau oleh orang lain. Terlalu banyak berbagi sesuatu (oversharing) juga membuat orang rawan jadi korban perundungan. Misalnya, ketika mereka mengemukakan pendapat yang tak umum, bisa berpotensi terjadi pertentangan yang kemudian membuat orang tersebut jadi bahan bullying.

Jika tidak ditangani dengan tepat, bullying dapat membuat korbannya rentan depresi, bahkan bisa berujung pada bunuh diri. 

10. Kecanduan Rokok

Mungkin kita sering denger kalau belakangan generasi milenial melekat dengan kampanye hidup sehat. Eits, tapi apa benar banyak yang melakukan upaya itu. Nyatanya kita masih menemui generasi milenial yang memulai hidup mereka dengan kebiasaan merokok.

Kini mereka juga makin memiliki banyak pilihan dengan adanya rokok elektrik atau vape. Dengan sentuhan lebih kekinian dan varian rasa yang lebih beragam membuat mereka justru makin getol untuk menekuni kebiasaan buruk ini.

Berbagai kemudahan yang didapatkan oleh generasi milenial, tentu perlu menjadi perhatian bagi para orang tua. Terlebih pada era yang serba instan ini, milenial makin rentan mengalami ancaman kesehatan seperti di atas. Sebagai orang tua, penting sekali untuk tak hanya memperhatikan kesehatan fisik anak tetapi juga kesehatan mental mereka. Yuk, rangkul mereka untuk lebih sadar akan kesehatannya! (arsa)

Check Also

Pemkot Tangerang Uji Coba Daur Ulang Sampah Jadi Briket

Pemkot Tangerang Uji Coba Daur Ulang Sampah Jadi Briket

  Metrobanten, Tangerang – Pemerintah Kota Tangerang melakukan uji coba pembuatan sumber energi terbarukan biomassa ...

www.metrobanten.co.id | Informasi Faktual & Gaya Hidup