Debat Paslon Pilkada Kota Cilegon Putaran II: Program Smart City Dikritisi

Debat Paslon Pilkada Kota Cilegon Putaran II: Program Smart City Dikritisi
Pasang Calon (Paslon) Wali Kota Cilegon dan Wakil Wali Kota Cilegon, dalam debat kandidat Pilkada Kota Cilegon 2020 putaran kedua.

 

Metrobanten, Cilegon – Program Cilegon Smart City menjadi sasaran kritik para kandidat Pasang Calon (Paslon) Wali Kota Cilegon dan Wakil Wali Kota Cilegon, dalam debat kandidat Pilkada Kota Cilegon 2020 putaran kedua, di salah satu stasiun televisi swasta Metro TV, Sabtu 28 November 2020.

Paslon Pilkada Kota Cilegon 2020 baik nomor urut 1, 3, dan 4 menilai bahwa program Smart City yang berjalan sekarang tidak sesuai dengan harapan.

Isu seputar Cilegon Smart City merupakan satu dari sekian pertanyaan yang dilontarkan panelis pada acara debat kandidat Pilkada Kota Cilegon 2020 putaran kedua tersebut kepada Paslon nomor urut 2 Ratu Ati Marliaty-Sokhidin (Ati-Sokhidin).

Tiga pasang calon (Paslon) kompak membantai program smart city Pemerintah Kota Cilegon. Masing-masing Ali Mujahidin-Firman Mutaqin, Iye Iman Rohiman-Awab dan Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta.

Baca juga: Anis Matta: Pasangan Benyamin-Pilar Pemimpin Tepat Lanjutkan Kota Tangsel

Sedangkan Pasangan Ratu Ati Marliati-Sokhidin mati-matian membela program Smart City.

Calon Wali Kota Cilegon dari nomor urut 1 Ali Mujahidin yang menanggapi program Smart City itu menilai, program tersebut acak-acakan.

“Saya lihat Cilegon Smart City itu adalah program yang sangat telat. Kota Depok sudah maksimal smart city-nya. Tapi di Cilegon, mencari informasi tentang APBD saja sangat sulit, biasa di buktikan masyarakat susah untuk mengakses daat APBD,”kata Ali Mujahidin pasangan nomor urut 1 saat debat berlangsung.

Baca juga: KPK Tangkap Walikota Cimahi Dugaan Korupsi Izin Pembangunan Rumah Sakit

“Saya lihat Cilegon Smart City itu adalah program yang sangat telat. Kota Depok sudah maksimal Smart City-nya. Tapi di Cilegon, mencari informasi tentang APBD saja sangat sulit,” tambah Ali.

Mumu, panggilan akrab Ali Mujahidin, juga menyoroti keterbukaan informasi Pemkot Cilegon, yang mendapat penilaian terendah dari Komisi Informasi (KI) Banten pada 2019 lalu.

“Keterbukaan informasinya saja mendapati peringkat paling buncit, di 2019 lalu,” ujarnya.

Calon Wali Kota nomor urut 3 Iye Iman Rohiman, juga melihat miring program Cilegon Smart City. Katanya, keterbukaan informasi di Kota Cilegon yang buruk, menjadi bukti jika program smart city di Kota Cilegon tidak maksimal.

Smart City tidak sesuai dengan harapan, padahal masyarakat menginginkan keterbukaan informasi dari pemerintah,” tuturnya.

Begitu pula dikatakan oleh Calon Wali Kota Cilegon nomor urut 4 Helldy Agustian. Ia mengatakan Cilegon Smart City milik Pemkot Cilegon, hanyalah sebuah nama.

Smart City Pemkot Cilegon yang saya lihat hanya sebatas memasang wifi di sejumlah titik. Tapi ketika masyarakat ingin mendapatkan informasi tentang program pemerintah, betul-betul kesulitan. Misalnya saja tentang penanganan Covid-19, Pemkot Cilegon menyediakan anggaran Rp75 miliar. Tapi penerima dana siapa saja, aksesnya kemana, itu tidak bisa diakses masyarakat,” ucapnya.

Terkait hal ini, Calon Wali Kota Cilegon nomor urut 2 Ratu Ati Marliati mengatakan, salah satu visi misinya memang memperkuat program Smart City.

Ia mengatakan, dirinya akan mendorong terkoneksinya keterbukaan informasi mulai dari tingkat kelurahan hingga tingkat kota. (red)

Check Also

Komjen Listyo Sigit ingin Polisi Ngaji Kitab Kuning Syekh Nawawi Al-Bantani

Komjen Listyo Sigit ingin Polisi Ngaji Kitab Kuning Syekh Nawawi Al-Bantani

  Metrobanten, Jakarta – Komjen Listyo Sigit Prabowo telah dinyatakan lolos uji kepatutan dan kelayakan ...

www.metrobanten.co.id | Informasi Faktual & Gaya Hidup