Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta Berhasil Tangkap Empat Orang Penyelundup Narkoba

Metrobanten, Kota – Menjelang akhir tahun 2019, petugas gabungan yang terdiri dari Polisi, Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta memperketat pengawasan dan pengamanan barang yang keluar masuk di kawasan Bandara.

Hasilnya, ada empat kasus upaya penyelundupan Narkoba diungkap hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir, dengan modus memanfaatkan jasa titip barang, menyembunyikan Narkoba di tubuh hingga di dalam barang bawaan penumpang.

Total empat Warga Negara Asing (WNA) asal India, China dan Ghana diamankan petugas dengan barang bukti Narkoba sebanyak 2,035 butir pil ekstasi dan 2,848 Methampetamine serta Ketamine.

Empat Warga Negara Asing (WNA) asal India, China dan Ghana diamankan petugas dengan barang bukti Narkoba sebanyak 2,035 butir pil ekstasi dan 2,848 Methampetamine serta Ketamine.

Kepala Kantor Bea dan Cukai Tipe C Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Finari Manan menjelaskan, terhitung sejak 8 Oktober hingga 5 November kemarin ada empat kasus upaya penyelundupan Narkoba ditegah, yang pertama penyelundupan Narkoba melalui Terminal Kargo. Berdasarkan pemeriksaan X-Ray, petugas mencurigai satu paket barang kiriman asal Perancis.

“Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam ditemukan barang berupa dua set tempat penyimpanan pakaian yang dapat dilipat dan digantung (organized compartment), yang di dalamnya masing-masing disembunyikan papan kardus berisi pil berwarna yang bertuliskan antara lain Vodafone, Lebara, kpn, dan EA. dengan total sembilan papan kardus berisi 2.035 butir pil,” jelasnya, Selasa (19/11/2019).

Ia mengatakan, kasus kedua yang ditegah upaya penyelundupan Methamphetamine dan Ketamine melalui Terminal 2F Kedatangan Internasional Bandara Soekarno Hatta, pada hari Kamis (17/10). Hasil profiling dari petugas terhadap penumbang ex-pesawat Malindo Air dengan rute penerbangan Chennai-Kuala Lumpur-Jakarta dilakukan pemeriksaan atas barang penumpang berinisial CCR (62) WNA India, ditemukan kristal bening seberat 1,057 gram.

“Barang itu ada di enam kain India yang dilipat rapi yang di lipatannya disembunyikan kemasan plastik berisi kristal bening, selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kristal bening tersebut dengan alat uji narkotika dan didapati positif Methampetamine. Kemudian kami berkoordinasi Controlled Delivery (CD) dengan Bareskrim Polri untuk mengembangkan kasus ini,” ujarnya.

Dilanjutkannya, kasus penyelundupan Narkoba melalui penumpang masih berlangsung, kali ini dilakukan penumpang ex-pesawat Ethiopian Airline dengan rute Conakry-Abidjan-Addis Ababa-Jakarta, berinisial MA (62) WNA Ghana. Dari tangan MA petugas mendapati 47 butir kapsul plastik berisi kristal bening, yang diselipkan pada pakaian dalam dan di antara anggota badan.

“Jumlah total berat bruto barang 827 gram dan dari hasil uji narkotika kristal bening tersebut didapati positif Methamphetamine, adapun penumpang tersebut pada saat datang, di dalam terminal dijemput oleh pihak dari PT A yang bergerak di bidang jasa travel,” kata Finari usai gelar perkara di Kantor Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Kami juga lagi-lagi berkoordinasi CD dengan pihak Polresta Bandara untuk penyelidikan, apakah ada bukti yang mengarah adanya keterkaitan antara jasa travel dengan jaringan narkotika,” imbuhnya.

Menurut ia, kasus terakhir yang ditegah yakni Ketamine sejumlah 965 gram dari tangan dua orang penumpang ex-pesawat Air Asia dengan nomor rute Guangzhou-Kuala Lumpur-Jakarta dengan inisial RB (28) dan HB (25) yang keduanya berkewarganegaraan China.

“Barang haram itu disembunyikan di atas bagasi pakaian-pakaian perempuan dan handuk berwarna putih yang di lipatannya disembunyikan serbuk kristal putih. Kami kembali berkoordinasi CD dilakukan dengan pihak Polresta Bandara, akan tetapi hingga saat ini masih dalam proses pengembangan terkait tersangka lain yang terlibat,” terangnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, para pelaku dapat diancam dengan hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun penjara. Tentunya dengan denda maksimum Rp10 miliar, ditambah 1/3 dalam hal ini barang bukti melebihi 1 kilogram.

“Upaya pemberantasan Narkotika ini bukan hanya tugas aparat hukum saja, melainkan juga dibutuhkan peran aktif dari masyarakat untuk membendung peredaran Narkotika,” ucapnya.

Sementara itu Kasubdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, AKBP Dodi Suryadin menjelaskan, biasanya menjelang akhir tahun ini atau tahun baru banyak barang-barang (Narkoba) yang masuk ke Indonesia untuk persediaan tahun baru. Barang haram yang masuk itu melalui laut, darat dan udara dengan jumlah yang sangat banyak sekali.

“Terbukti dengan kasus-kasus penangkapan ada di Sumatera, Jawa bahkan di timur juga banyak sekali. Jadi mereka pasti untuk stok tahun baru dan ini pun (kasus empat WNA) mungkin demikian, mereka mengirim walaupun satu orang membawa satu kilo,” ujarnya.

Dodi menambahkan, pola proses pengiriman itu terbilang sudah terorganisir dengan baik, sebab mereka dalam mengirim Narkoba dalam satu pesawat terdapat tiga sampai empat orang. Para pelaku itu memiliki peran berbeda, mulai dari kurir hingga pengawas, untuk pengawas sendiri berperan mengawasi para kurir hingga sampai tujuan dan setelah sampai pengawas itu kembali ke negaranya.

“Itu hasil introgasi kami kemarin warga India begitu, jadi ada orang yang mengawasi setelah barangnya lewat dia balik lagi ke negaranya. Jadi bukan satu orang saja, mereka berkelompok satu pesawat itu yang dibagi-bagi ada yang ke Jakarta, Bandung dan lain sebagainya. Jadi tetap mau akhir tahun mereka menyetok (Narkoba) dan berasal jaringan India, Malaysia, China dan dari Perancis,” tandasnya. (Hel)

Check Also

Sebanyak 225 Desa di Provinsi Banten Terdampak Gempa Sumur Pandeglang

Sebanyak 225 Desa di Provinsi Banten Terdampak Gempa Sumur Pandeglang

  MetroBanten, Serang – Berdasarkan data hasil update Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten ...

www.metrobanten.co.id | Informasi Faktual & Gaya Hidup