Tidak Tercium Aparat : Praktek Pengoplosan Gas Ilegal Diduga Masih Marak di Kota Tangerang
Metrobanten, Kota – Praktek pengoplosan Gas bersubsidi ukuran 3kg diduga masih marak di wilayah hukum Kota Tangerang. Pasalnya, banyak konsumen yang mengeluhkan isi gas yang tidak sesuai, lantaran cepat habis, Kamis (24/1/19).
Wahyudi salah satu warga di Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang yang berprofesi sebagai pedagang mengeluhkan isi tabung gas 3 kilogram cepat sekali habis dan tidak sesuai dengan takaran.
“Saya padahal baru isi gas 2 hari lalu, biasanya si nyampe 4 hari baru habis. Ini jelas ga beres,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan hasil penelusuran dan informasi yang dihimpun dari lapangan, salah satu gudang yang berlokasi di wilayah Kelurahan Parung Jaya, RT 02/03 Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, diduga masih digunakan sebagai tempat praktek pengoplosan gas bersubsidi.
Meskipun di depan lokasi gudang tersebut tidak terlihat plang resmi Pertamina, puluhan truk sedang maupun besar terlihat keluar masuk lokasi setiap harinya bahkan hingga tengah malam, mengangkut tabung-tabung gas berukuran 3, 12 dan 50 kilogram.
Selain itu, keberadaan lokasi gudang yang cukup terpencil juga membuat dugaan praktek pengoplosan gas bersubsidi, hingga saat ini belum tercium aparat kepolisian.
“Ya memang setiap hari udah biasa sering keluar masuk kalau truk gas kesini si mas. Ya seringnya si kalau saya lihat saat malam hari,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Kecurigaan masih maraknya praktek curang para mafia pengoplos gas ini juga dibuktikan dengan tertangkapnya enam pelaku pengoplos gas dari empat gudang yang berada di Tangerang dan Jakarta Timur, oleh pihak Subdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, keenam orang yang ditangkap itu berinisial ADN, LA, RSM, KND, KSN, dan YEP.
Adapun keenamnya sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. “Jadi ini pengungkapan kasus oplosan gas. Dari keterangan ini dinamakan oplosan dokter istilahnya karena dia menyuntik seperti dokter,” kata Argo.
Sementara itu, Unit Manager Communication & CSR MOR III PT Pertamina, Dewi Sri Utami mengatakan, salah satu cara untuk mengenali dan menghindari menggunakan tabung gas oplosan yaitu dengan tidak tergiur harga gas elpiji murah yang ditawarkan.
“Harga elpiji nonsubsidi itu (oplosan) kan dijual Rp135.000-150.000 per tabung, sementara harga resminya Rp 139.100. Aritnya harga murah itu jangan sampai kita tergiur karena itu sama saja menggadaikan keselamatan kita,” tukas Dewi. (Red)









