Tata Cara Itikaf Ramadhan Menyambut Malam Lailatul Qadar, Jemput Kemuliaan 1.000 Bulan

Tata Cara Itikaf Ramadhan Menyambut Malam Lailatul Qadar, Jemput Kemuliaan 1.000 Bulan
Umat muslim yang berniat melaksanakan Itikaf harus menyibukkan diri dengan ibadah sebisa mungkin, siang dan malam, berupa sholat, dzikir, tilawah dan ibadah lainnya.

 

Hikmah – Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan 1442 H, semakin dekat pula dengan datangnya Lailatul Qadar. Berikut kami sajikan lengkap Panduan Melakukan Itikaf, mulai dari Niat Itikaf dan syarat untuk menjemput kemuliaan malam Lailatul Qadar Ramadhan 2021.

Iktikaf adalah ibadah dengan cara berdiam di dalam masjid dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah pada malam Lailatul Qadar  datang di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Meski tak ada satu pun yang tahu kapan malam Lailatul Qadar akan mendatangi hamba Allah, tetapi kedatangannya bisa dijemput dengan beberapa amalan termasuk Itikaf.

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dinantikan oleh umat muslim pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan 2021.

Malam Lailatul Qadar menjadi malam yang terpat untuk umat muslim di seluruh dunia dalam memohon ampunan kepada Allah SWT.

Dr. Ahmad Abdurrazaq Al-Kubaisi dalam bukunya, ‘Itikaf Penting dan Perlu’ mengatakan, itikaf berasal dari bahasa Arab ‘akafa yang bermakna menetap, mengurung diri atau terhalangi. Menurut istilah syar’i masyhur di kalangan ulama dan fuqaha, itikaf adalah menetap atau berdiam dalam masjid disertai puasa dan adanya niat.

Perintah itikaf disebutkan dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 125

وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Artinya:” Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

Tata Cara Itikaf

Menurut hadits nabi sebagaimana diriwayatkan dalam Bukhari, Muslim, dan Ashabus Sunan, waktu pelaksanaan itikaf dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Ibnu Umar ra berkata:”Adalah Rasulullah SAW dahulu menjalankan itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ashabus Sunan)

Baca juga: Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Bulan Suci Ramadhan Mendapat Berkah dan Ampunan

Sementara itu, masih dalam buku yang sama, berdasarkan ijma para ulama, kesunnahan melakukan itikaf pada hari-hari biasa disepanjang tahun merupakan bentuk taqarrub (ketaatan) kepada Allah SWT dan ibadah nawafil (tambahan) yang akan mendatangkan pahala bagi yang melakukan.

Sebelum menjalankan ibadah ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebagaimana menjadi kesepakatan para ulama. Berikut syarat itikaf yang disepakati para ulama,
1. Islam
2. Berakal
3. Suci dari junub, haid, dan nifas
4. Niat
5. Masjid

Niat Itikaf

Melaksanakan Itikaf harus disertai dengan niat. Niat itu yang menjadi pembeda seseorang sedang beritikaf atau tidak, meskipun sama-sama berada di masjid.

Berikut Niat Itikaf :

نَوَيْتُ الْإِعْتِكَافَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitul i’tikaafa sunnatal lillaahi ta’aalaa

Artinya: Aku berniat itikaf, sunnah karena Allah Ta’ala.

Waktu pelaksanaan Itikaf

Dilansir dari berbagai sumber, Itikaf dimulai ketika matahari terbenam pada malam ke-21 (atau ke-20 jika Ramadhannya 29 hari) hingga habis Ramadhan, yakni saat matahari terbenam pada malam hari raya Idul Fitri.

Baca juga: Sejarah Nuzulul Qur’an, Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Pertamanya

Lebih diutamakan jika ia meneruskan hingga sholat Idul Fitri dan baru meninggalkan masjid setelah sholat Idul Fitri.

Waktu Itikaf sunnah suka rela atau tidak dibatasi.

Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, meskipun waktunya singkat, seseorang yang berdiam diri di masjid dengan niat itikaf maka itu termasuk itikaf.

Namun menurut mazhab Maliki, waktu beritikaf minimal adalah sehari semalam.

Menurut mazhab Syafi’i, waktu itikaf minimal adalah bisa disebut menetap atau berdiam diri di masjid, yaitu lebih panjang dari ukuran waktu tuma’ninah saat ruku’ atau sujud.

Jadi menurut mazhab Syafii, Hanafi dan Hanbali, seseorang yang itikaf satu jam atau bahkan hanya setengah jam pun boleh.

Berdasarkan penjelasan tersebut, bagi yang tidak bisa beritikaf penuh pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, ia bisa beritikaf sebagiannya, seperti datang ke masjid menjelang sholat Isya dan beritikaf sampai subuh.

Bisa juga datang ke masjid beberapa jam sebelum sholat Subuh dan beritikaf sampai Subuh atau pagi hari.

Menurut mazhab Hanafi, Syafii dan Hambali, seorang istri tidak sah beritikaf tanpa izin dari suaminya.

Sedangkan Rukun Itikaf hanya ada dua, yakni niat Itikaf dan tinggal (berdiam diri) di masjid. Jika tidak berniat beritikaf, maka meskipun ia berada di masjid, keberadaannya bukanlah Itikaf.

Demikian pula sebaliknya, eorang yang berniat beritikaf tapi ia tidak berada di masjid, maka itu bukan itikaf.

Umat muslim yang berniat melaksanakan Itikaf harus menyibukkan diri dengan ibadah sebisa mungkin, siang dan malam, berupa sholat, dzikir, tilawah dan ibadah lainnya.

Keutamaan Itikaf

Itikaf mampunyai berbagai keutamaan.

Berikut berbagai keutamaan itikaf dilansir dari berbagi sumber :

  1. Mendapat Pahala

Orang yang melaksanakan Itikaf akan mendapatkan pahala setiap saat.

Sebab, diamnya di masjid dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT.

Saat terjaga, ia mengisi waktunya dengan shalat, tilawah, dzikir, berdoa, bermunajat, tadabbur, tafakkur atau mengkaji ilmu.

Bahkan dalam kondisi tidur pun, orang yang beritikaf mendapatkan pahala yang besarnya tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidur di rumahnya.

Sebab tidurnya itu termasuk rangkaian Itikaf.

  1. Meraih Lailatul Qadar

Orang yang Itikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, insya Allah akan mendapatkan Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar turun pada malam ganjil pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Orang yang Itikaf di masjid akan merasakan hadirnya Lailatul Qadar.

Bahkan seandainya orang yang beritikaf itu sedang tertidur dan hanya bangun sebentar pada malam Lailatul Qadar, Insya Allah ia tetap mendapat Lailatul Qadar karena tidurnya merupakan rangkaian itikaf dan berpahala

  1. Meningkatkan Kesungguhan dalam Beribadah

Dikutip TribunStyle.com dari rumahzakat.org, orang yang melaksanakan Itikaf dapat meningkatkan kesungguhan dalam beribadah.

Aisyah menceritakan, “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim).

  1. Terhindar dari Perbuatan Maksiat

Orang yang Itikaf di masjid akan terjaga dari perbuatan maksiat.

Itikaf ikut menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa, walau kecil sekalipun.

Itikaf dapat mencegah keinginan untuk melakukan kemaksiatan, serta mendidik berlaku sabar dalam menghadapi segala bentuk kemaksiatan.

  1. Perenungan Tentang Hidup

Orang yang melaksanakan Itikaf juga bisa merenung banyak hal tentang hidup.

Berada di dalam masjid membuat kita terkondisikan untuk mengingat Allah dan mengingat segala kebesarannya.

Untuk itu, kita akan mengingat bahwa dalam hidup banyak sekali dosa-dosa dan kesahalan baik yang disengaja ataupun tidak.

Untuk itulah Allah memberikan kita kesempatan itikaf salah satunya untuk mengingat dan merenungi kehidupan.

Perenungan saat Itikaf di Bulan Ramadhan ini juga bisa tentang masalah dunia dan akhirat, masalah kebahagiaan, masalah kesalahan di masa lalu, apa yang sudah kita lakukan dan apa yang sudah kita lalaikan. (arsa)

Check Also

Polres Lebak Berhasil Meringkus Pelaku Penganiaya di SPBU

Polres Lebak Berhasil Meringkus Pelaku Penganiaya di SPBU

  Metrobanten, Lebak – Polres Lebak Berhasil Tangkap Pelaku Penganiaya di SPBU Rumbut, Kecamatan Cibadak, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

www.metrobanten.co.id | Informasi Faktual & Gaya Hidup