Revitalisasi Lamban, Pasar Ciputat Sepi

Metrobanten, Tangsel  – Pasar merupakan penggerak perekonomian daerah, namun sangat disayangkan kondisi pasar tradisional di kota Tangerang Selatan (Tangsel) sangat memperihatinkan.

Atas dasar tersebut, Pemerintah  berencana melakukan revitalisasi salah satu dari tujuh Pasar tradisional di Tangsel yaitu Pasar Ciputat,  Revitalisasi Pasar Ciputat dilakukan akibat kondisi pasar tersebut dinilai memprihatinkan.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Tangerang Selatan, melalui unit pelaksana teknis (UPT) pasar, Ferdiansyah mengatakan, Pasar Ciputat saat ini baru menjalani Market Sounding (penjajakan minat pasar) yang dijadwalkan akan selesai pada Tahun 2020.

“Kalau masalah revitalisasi baru Ciputat yang sedang berjalan market soundingnya. Jadi sesuai jadwalnya akan selesai pada tahun 2020, sebelum masa akhir jabatan. Pasar lainya kami sedang menunggu pihak ke tiga yang mau membantu membangun,” kata Ferdiansyah.

Kedepan, sistem pembayaran retribusi pasar secara digital untuk pasar tradisional bakal diterapkan di Pasar Ciputat dalam bentuk aplikasi yang akan dikenalkan dengan sebutan “Tangsel P”.

Sistem restribusi digital seperti ini dinilai lebih efisien, transparan dan mencegah adanya penyimpangan sesuai motto Kota Tangerang Selatan, cerdas, modern dan religius.

“Kebijakanya kami sedang membuat Tangsel P. Jadi Tangsel kan mottonya cerdas religius dan modern, dan modern nya itu akan kami aplikasikan Tangsel P berbentuk digitalisasi,” jelasnya.

Namun dalam revitalisasi itu, Pemkot Tangsel dituntut untuk memperhatikan berbagai aspek pedagang pasar tradisional di Pasar Ciputat yang dinilai sebagian pedagang membuat pemasukannya kembang kempis (naik turun) alias tidak stabil.

Pantauan Metrobanten pada Kamis (7/3/2019) di Pasar Ciputat tampak amburadul. Selain kumuh, becek, dan para pedagang di pasar tersebut terkesan tidak tertata dengan baik hingga menimbulkan persaingan tidak sehat diantara pedagang.

Ketika dijumpai di Pasar Ciputat lantai II Blok E, Teteh (46), mengaku semenjak sepuluh tahun terakhir dagangannya sepi pengunjung. Pedagang pakaian itu mengeluh sepinya pengunjung lantaran akibat keberadaan toko modern didekat lokasi Pasar Ciputat.

“Dulu tidak sepi semenjak belum ada Ramayana dan Plaza Ciputat. Sekarang sepi! Boro-boro bicara keuntungan, pengunjung saja kadang ada dan kadang tidak ada. Pemasukan itu jika ada pembeli bisa sampai Rp. 100 ribu – Rp 300 ribu, kalau tidak ada seperti ini ya nol pemasukan lah. Kalau 10 tahun lalu pemasukan bisa sampai Rp 1 juta,” katanya.

Meski demikian, pedagang pakaian itu berharap penataan para pedagang di Pasar Ciputat untuk segera ditertibkan kembali. Pasalnya, banyak pedagang pakaian saat ini keberadaannya ada di lantai satu yang dinilai menjadi kendala bagi pembeli untuk naik ke lantai dua.

“Pasar dilantai dua ini sepi. Apalagi pedagang pakaian yang semula dilantai dua kini ada yang di lantai satu untuk mengejar pembeli. Kalau bisa penataan pedagangnya di perketat, kasihan yang ada dilantai atasnya tidak dapat pembeli,” harapnya.      (Dli)

Check Also

Kapolsek Walakanta Serang Dicopot Akibat Kerumunan Massa Menonton Sepak Bola

Kapolsek Walakanta Serang Dicopot Akibat Kerumunan Massa Menonton Sepak Bola

  Metrobanten, Serang – Kapolsek Walantaka AKP Kasmuri langsung dimutasi sebagai pimpinan kepolisian di kecamatan ...

www.metrobanten.co.id | Informasi Faktual & Gaya Hidup