Mengintip Kisah Asal Muasal Warga China Benteng di Kota Tangerang Tangerang

Metrobanten, Sejarah – Menyelami lebih dalam sejarah awalkependudukan di Kota Tangerag ini memiliki kisah sejarah masa lalu yang luar biasa. Dari daerah rebutan hingga alkulturasi antara masyarakat Tionghoa dan pribumi yang kita kenal sekarang dengan sebutan Cina Benteng (Cibet).

Kehidupan masyarakat Tionghoa Tangerang yang dikenal dengan Cina Benteng dimulai dari pendaratan nenek moyang di Teluk Naga pada 1407 oleh Chen Ci Lung.

Menyusuri kawasan Pasar Lama-Tangerang, kita akan menemukan kehidupan masa lalu yang masih hidup.

Klenteng “Boen Tek Bio” adalah refleksi masa lalu yang megah dan terhimpit di tengah keriuhan toko-toko di persimpangan jalan Bhakti dan jalan Cilame, Pasar Lama-Tangerang,

Sejumlah warga Cina Benteng generasi ke-3 menari di atas panggung di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, Banten.

Boen Tek Bio merupakan salah satu ikon tertua yang paling dikenal masyarakat terkait komunitas Cina Benteng di Tangerang. Konon, bermukimnya komunitas Cina di daerah ini berawal dari pendaratan Chen Ci Lung di Teluk Naga pada 1407.

Klenteng “Boen Tek Bio” diperkirakan dibangun pada 1684 dan menjadi klenteng tertua di Tangerang yang saat ini berusia lebih dari 300 tahun—Boen Tek Bio memiliki arti berkumpulnya orang-orang intelektual untuk melakukan kebajikan. Boen Tek Bio baru diresmikan menjadi Klenteng sekaligus perkumpulan keagamaan dan sosial sejak 12 Januari 1912.

Agar lebih mengenal kebudayaan setempat, Museum Benteng Heritage didirikan. Siapapun bisa datang dan belajar budaya di sini. Museum Benteng diklaim sebagai museum kebudayaan Indonesia-Tionghoa pertama di Indonesia, letaknya persis berada di belakang klenteng, Boen Tek Bio.

Bangunan asli Museum Benteng dibangun pada abad ke 17 dan merupakan salah satu bangunan tertua di Tangerang. Pada Sabtu (15/06) museum ini menerima kunjungan puluhan peserta perjalanan kultural yang diselenggarakan oleh Gelar.

Anak-anak muda setempat aktif menjadi sukarelawan di museum untuk menjadi pemandu dan menjelaskan tradisi Cina yang sudah mendarah daging di komunitasnya.

Pengunjung yang ingin datang ke museum atau klenteng, pasti akan melalui deretan pedagang di Pasar Lama yang menjual sayur, makanan, hingga berbagai alat sembahyang. Di sinilah semua orang dari berbagai etnis berbaur.

Peh Cun diambil dari bahasa Hokkian yang berarti mendayung perahu.

Untuk menjaga tradisi, masyarakat setempat menggelar Festival Peh Cun. Banyak kisah yang melatarbelakangi perayaan ini, termasuk kisah seorang jenderal yang bunuh diri di sungai. Rakyat yang mencintai jenderal tersebut lantas mencari jenazah dengan perahu dan melemparkan nasi berbungkus daun bambu yang disebut bacang.

Acara ini diadakan di sungai Cisadane. Peh Cun diambil dari bahasa Hokkian yang berarti mendayung perahu. Festival sempat dihentikan pada 1966, festival ini mulai dibangkitkan kembali pada tahun 2000-an seiring dibukanya akses.

Menurut pendiri Museum Benteng Heritage, Udaya Halim, festival ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin yang baik sampai matinya akan selalu diingat oleh rakyat.

Sebutan Cina Benteng adalah sebutan untuk komunitas Tionghoa di Tangerang yang penampilan fisiknya sudah tak tampak seperti orang Cina. Nama ‘benteng’ merujuk pada benteng Belanda yang mengelilingi daerah tersebut pada tahun 1684. “Sebanyak 90% hidupnya berada di bawah standar kemiskinan,” kata Udaya.

Sebutan Cina Benteng bagi masyarakat peranakan Tionghoa tidak lepas dari sejarah keberadaan Benteng Makasar dan filosofis nama Tangerang. Asal kata nama Tangerang menurut tradisi lisan, berasal dari nama bahasa Sunda yaitu “tengger”  dan “perang.” Tengger artinya tanda segala sesuatu yang didirikan dengan kokoh, yaitu tugu yang didirikan sebagai simbol batas wilayah kekuasaan kesultanan Banten dan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)—perusahaan dagang asal Belanda. Sedangkan pengertian perang yang dimaksud bila kawasan ini menjadi medan perang antara kesultanan Banten dengan tentara VOC. Jadi Tangerang bermakna “batas perang.”

Merujuk secara antropologis, eksistensi masyarakat Cina Benteng yang selalu hidup sejak jaman kolonialisme, tekanan di era revolusi dalam bentuk tragedi pembantaian, hingga interaksi sosial politik dengan Orde baru yang memarginalisasikan membuat mereka selalu terpuruk dan tidak dengan mudah berkembang seperti masyarakat Tionghoa di wilayah Indonesia lain.

Salah satu refleksi yang menarik dari kehidupan masyarakat Cina Benteng adalah mereka mampu beradaptasi dan berakulturasi di tengah daerah yang rawan konflik, sarat stigma negatif dan kebijakan-kebijakan yang selalu mendiskriminasi. Semangat pluralisme ini yang harus selalu kita jaga dan membuktikan bila kita mampu hidup rukun di tengah keberagaman.

 

(Foto dan Suntingan: arsa, bbs. net)

Back to top button