HUT Ke-27 Diwarnai Aksi Mahasiswa UMT di Depan Pemkot Tangerang
Metrobanten, Kota – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Tangerang diwarnai aksi demo puluhan mahasiswa. Sekitar kurang lebih 50 mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) tersebut, baru tiba di depan Puspemkot Tangerang, Kamis (28/2/20).
Aksi demo ini bertepatan pada hari jadi Kota Tangerang ke-27 yang jatuh pada setiap 28 Februari.
Dalam orasinya, para mahasiswa menuntut Pemkot Tangerang tidak menjadikan momen HUT sebagai pesta yang hanya dinikmati oleh kalangan pejabat.
“HUT Kota Tangerang ini bukan milik pejabat, tapi juga milik rakyat. Mereka berpesta pora merayakan HUT, sementara rakyat masih banyak yang menderita,” ujar salah satu mahasiswa saat menyampaikan orasi.
Mahasiswa juga menyoroti pembangunan sejumlah jembatan penghubung yang kondisinya sudah mulai retak. Mereka menuding pemkot dan kontraktor bermain-main terhadap APBD yang sejatinya untuk kepentingan rakyat.
“Selain itu slogan Akhlakul Kharimah yang melekat bagi Kota Tangerang, tidak mencerminkan sama sekali. Maksiat dimana-mana, taman-taman yang dibuat hanya untuk memfasilitasi kegiatan maksiat,” ujar salah satu orator dalam aksi tersebut.
Mahasiswa bahkan menjuluki Walikota Arief R Wismansyah sebagai Wagiman alias ‘Walikota Gila Taman’.
“Bapak Arief kita juluki Wagiman, walikota gila taman. Karena selama ini hanya mementingkan membangun taman dimana-mana. Sementara persoalan pendidikan, kesehatan tidak diperhatikan,” ujar salah satu mahasiswa dalam orasinya.
Koordinator aksi Sam Tuanaya mengatakan, aksi yang dilakukan oleh gabungan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMT ini bertujuan untuk mengingatkan kepada Pemkot Tangerang agar lebih pro rakyat.
“Di usia ke 27 tahun namun masih menimbulkan permasalahan-permasalahan yang sampai dengan saat ini tidak pro terhadap rakyat. Baik berupa pembangunan infrastruktur yang tidak difikirkan secara matang,” kata Sam Tuanaya.
Menurut Sam, pembangunan yang dilakukan hanya memakan dana APBD yang cukup besar namun belum bisa seutuhnya dinikmati oleh masyarakat.
“Lalu, permasalahan ketenagakerjaan yang saat ini masih menjadi momok buruk dengan banyaknya para buruh yang masih menjadi tenaga outsourcing, bahkan diberlakukannya praktik kotor PHK sepihak oleh para pihak direksi pabrik,” imbuhnya.
Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan di antaranya,
- Menuntut Walikota Tangerang untuk memberikan pembangunan infrastruktur yang berguna bagi masyarakat Kota Tangerang.
- 2. Menuntut Walikota Tangerang dalam setiap pembangunan infrastruktur untuk dikaji lebih matang.
- Menuntut walikota Tangerang untuk menghapus praktik-praktik outsourcing karena merugikan para pegawai.
- Menuntut Walikota Tangerang untuk memberikan sanksi para direksi-direksi yang telah mempraktikkan PHK sepihak.
Aksi mahasiswa yang berlangsung kurang dari 1 jam, tiba-tiba berhenti. Mereka akhirnya membubarkan diri setelah mendapat komando dari koordinator aksi.
Tak seperti biasanya, mereka tak meminta untuk bertemu dengan perwakilan pihak Pemkot Tangerang seperti kebanyakan aksi demo untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. (Red)









